TUHAN, SAYA LELAH
Istriku selalu mengeluh sakit kepala, mual, sakit perut, kurang tidur, dan mulai belang-belang solatnya, sudah hampir dua tahun sejak kelahiran anak kami. Tidurnya terganggu, menjaga anak baginya sebagai kewajiban, tanggung jawab dan beban yang sangat berat, ibarat memikul dunia. Yang aku tidak suka, dia merasa dia menanggungnya sendiri dan seolah menghilangkan peran saya. Tapi apalah dayaku ketika Post Partum Depression itu menghinggapinya.
Dunia memasuki episode klimaks, tidak pernah baik-baik saja sejak para bilioner dan Z!0n!st itu speed running rencana tatanan dunia baru-nya. 2030 targetnya. Kekacauan sadar atau tidak terjadi di berbagai lini dan platform, dari maya hingga realita. Setiap hari w baca berita duka, kecewa, dan bencana. Kebakaran lahan di Indonesia yang sudah hampir 4 bulan, Gaza yang sudah mulai rata dengan tanah, Aspirasi tidak pernah benar-benar memberikan perubahan. Revolusi adalah kunci, tapi kami terlalu pecah dan rusak. Tidak ada pemimpin seperti Rasulullah. Kami sendirian, dan seperti buih.
Para badut memimpin dunia. Indonesia ada Prabowo. Capek banget baca berita dari dia setiap hari. CAAAPEEEEK BAAANGET. Kok bisa ya? ternyata negara hancur bukan oleh karakter-karakter keren seperti villain di film-film tokusatsu. Tapi oleh badut-badut pecundang penghamba kolonialisme dan anjing korporat.
Ekonomi tidak pernah membaik. Keluhan pedagang dan UMKM yang semakin banyak dan beragam. Setiap hari w temui di media sosial. Down grade gaya hidup, bangkrut sudah santapan setiap hari. Jiwa wirausahaku juga ikut melempem. Depresiku kembali. Kalau para penyokong ekonomi ini sudah menjerit, tinggal tunggu waktunya aja. Sialan memang MBG dan Kopdes itu, dan gobloknya ada temanku yang mendukungnya. Se-Goblok itu emang manusia. Sial, jiwa misanthropy-ku kembali.
Dosa demi dosa terus berulang. Aku capek. badan ku capek, jiwaku apalagi. Seperti istriku, solatku juga mulai sering absen, bangun siang, tidur telat, bangun tengah malam, begadang dan repeat. Quran tidak pernah tersentuh. Harapan mulai hilang perlahan. Episode ini, fase hidup sebatas hidup itu datang lagi. Apakah kematianku akan indah? Ah... setidaknya aku punya pembelaan dan dosaku tidak segila para pemangku kepentingan itu. Penghakiman-Mu pasti lebih bijaksana dan hukuman dari para Malaikat pasti lebih profesional daripada para Juggernaut manusia itu. Harapanku cumans satu, mati. Tapi apakah setelah mati aku bakal dapat ketenangan Surga? entahlah, sialnya kenapa jauh di lubuk hatiku tetap optimis.
Kurasa tujuan para bilioner itu dalam menjatuhkan moral dan harapan itu sudah berhasil.



Komentar
Posting Komentar